Senin, 08 Maret 2021

AKU MAU MEMAKNAI LEBIH DALAM!

halo blog,
bismillah..

izin curhat sebelum tidur, biar legaa:)

Hari ini, setalah kumpulan hari hari berlalu,
setelah ada banyak peristiwa menyayat hati di dalam linkungan terkecilku, yaitu keluarga. bismillah aku mau coba maknai, 

bagaimana jika? ini adalah suatu bentuk ujian?
bukankah ujian adalah sesuatu yang pasti tatkala kita sudah mengaku beriman?
ya, yang pertama, aku mau memaknai ini sebagai ujian,
Allah menguji kita:") keluarga kita, ya
Allah menguji kita, sejauh mana keterikatan hati kita satu sama lain,
Allah menguiji kita, sejauh mana kita yakin ke Allah, sampai kita mau mengasah terus senjata utama kita yakni DO'A.

kadang aku termenung cukup dalaaam, 
"ohiya ya? ya Allah gimana ini kalau ujian, Engkai mau lihat seberapa kuat kita saling mendoakan?"

bukankah aku pribadi sering kali memberi nasihat berbunyi 
"satu satunya jalan ya berdoa, urusan hati ya berdoa, kan satu satunya yang menggenggam hati tu Allah."
nah tuh, Allah uji, apakah dengan permasalahan yang ada,
makin membuat aku mengaplikasikan nasihat tadi? atau malah cuek?
keterlaluan sih kalau aku cuek T_T
karena ini adalah keluargaku sendiri.
huffft Ya Allah, 
bismillah, mulai saat ini, aku akan ikhtiar lewat doa, terus menerus
semoga bisa istiqomah.

Yaa Rabb, aku ingin kami sekeluarga berkumpul di Syurga FirdausMu
Aamiin Yaa Mujiib.

Kamis, 25 Februari 2021

terbukalah, agar ada jawaban.

 [4.46 PM, 25/2/2021] Rumaii: Sampai aku bertanya tanya

"Ya Allah, apa indikasi bahwa aku ini siap dengan segala konsekuensi menuntut ilmu di kuliah"

[4.47 PM, 25/2/2021] Rumaii: "Kadang aku urai lagi

Tunggu tunggu, kenapa aku harus kuliah? Ada apa di kuliah? Benarkah jalan ku dengan kuliah?"

[4.48 PM, 25/2/2021] Rumaii: "Benarkah aku betul betul berniat kuliah untuk mencari ilmu? Atau? Mengikutinya standar masyarakat"

[4.48 PM, 25/2/2021] Rumaii: "Bukankah ada banyak ilmu? Dan gak harus didapat di bangku perkuliahan"

[4.48 PM, 25/2/2021] Rumaii: Dari situ tu

[4.48 PM, 25/2/2021] Rumaii: Makin mumet aja pikiran ku mar

[4.48 PM, 25/2/2021] Rumaii: Ntr klo kamu freeee banget, bales ya

[9.27 AM, 26/2/2021] Marini : Sebenrnya ya, aku yakin banget hampir semua orang sebelum kuliah tuh mikirnya gitu. Kenapa harus kuliah? Padahal kesuksesan itu bukan cuma didapet dari dunia perkuliahan. Apa aku kuliah cuma karena malu sama orang2 kalo misalnya aku nempuh pendidikan sampe SMA aja? Atau karena ikutin aja kemauan orangtua?


Nah, kebanyakan dari kita memulai kuliah dengan alasan2 yang ga jelas gitu, Rum. Termasuk aku juga. Aku kuliah karena aku ga tau mau ngapain setelah lulus SMA, aku ngikutin kemauan ortu aku, aku ngikutin standar masyarakat. 


Tapi, ada satu hal yang aku yakini saat itu. Suatu hari di tengah proses perkuliah itu, aku pasti bakal nemuin alasan kuat kenapa aku harus kuliah. Aku yakin, dunia perkuliahan yang terkenal keras, bakal menempa aku habis2an buat menyadarkan pemikiran aku yang dangkal. Aku harus kuliah, karena aku butuh lingkungan yang bisa menempa aku jadi orang yang lebih kuat lagi dan ilmu yang lebih banyak lagi. Dari kuliah, kita bukan cuma belajar tentang ilmu pengetahuan. Kita belajar tentang bersosialisasi, bermasyarakat, belajar buat kerja keras, dan belajar tentang agama juga sangat terbuka luas.  Intinya hal yang bisa didapatkan dari kuliah itu bener2 ilmu tentang kehidupan yang bikin pandangan kita jadi lebih terbuka lebar.



Dan yang perlu diperhatikan, alasan bodoh kayak ngikutin standar masyarakat buat lanjutin pendidikan, perlahan bakal ilang ketika kamu ngerasain sendiri apa aja yang bisa kamu dapet di dunia perkuliahan. Karena kamu ga mungkin terus bertahan dengan alasan bodoh itu sampe lulus kuliah kan? Yakin deh ga akan bisa sampe lulus kuliah kalau dalam pikiran ini masih tertanam "aku kuliah karena ngikutin standar masyarakat". 


Jadi menurut aku itu sih rum pentingnya kuliah. Emang jalan hidup orang beda2 kok, kamu ga harus berpikiran sama kayak aku. Jika kamu punya ladang atau lingkungan lain yang bisa menempa kamu jadi sosok yang luar biasa dan itu bukan dunia perkuliahan, ya silahkan pilih aja. Kalau aku, memilih dunia perkuliahan sebagai ladang yang bisa menempa aku jadi sosok yang luar bisa. Yang penting, sebagai manusia, kita harus mau ditempa supaya kita bener2 jadi manusia secara fisik, jiwa, dan juga kualitas.


welll makasih teman, sungguh membuka pikiranku banget.

Rabu, 24 Februari 2021

Deep words

 bismillah..

akhir akhir ini lagi ingin bisa menjadi pribadi yang memaknai segala hal.

kenapa? karena disitu ada banyaaaak sekali hikmah tersirat. gak akan ditemui kalau bukan dengan deep thinking.

teruuus.

tau gak? aku dari dulu ngefans banget sama ebiet g ade, entah kenapa sampai sekarang masih jatuh cinta.

khususnya sama liriknya,kenapa?

wuhhh liriknya dalem banget cuy, nampar juga, pokoknya kayak.. berbobot luar biasa.

bikin merenung OMG:"

apalagi yang judulnya "Untuk Kita Renungkan"

nih ya aku tulisin liriknya, terus coba maknai deh, beneran renungin deh..

"kita mesti telanjang dan benar benar bersih..suci lahir dan di dalam batin

tengoklah kedalam, sebelum bicara, singkirkan debu yang masih melekat, singkirkan debu yang masih melekat."

dalem kan? 

"anugrah dan bencana adalah kehendaknya, kita mesti tabah menjalani, hanya cambuk kecil agar kita sadar, adalah dia diatas segalanya, adalah dia diatas segalanya"

dah gengs segitu dulu, nanti lanjut 


Sabtu, 13 Februari 2021

Memaknai alasan keberadaan ku

#bismillahdulu
#biarniatgakbelok
teramat sering aku merenung, 
sebenernya aku ini siapa? mau apa? kenapa aku bisa berada disini sekarang? apa yang harus kulakukan?
mau kemana sebenarnya diriku ini. sulit sekali menjawab pertanyaan demikian.
karena jiwa perfeksionis kah? i even dont know?!
rasanya aku tak ingin menjalani hidup tanpa alasan yang jelas. big WHY

wait, kenapa aku bisa lahir?
oh ya alhamdulillah aku lahir dari sepasang suami isteri yang yang tentu saja sah secara agama dan hukum.

sejak aku lahir. TK SD SMP SMA
waktu berlalu.
telah banyak hal yang kulalui,
tentu sebagai orang beriman, aku terlebih dulu harus mengutamakan rasa syukur
karena sungguh tak terhitung karunia dan kasih sayangNya untukku selama ini.
banyak sekali aku belajar dari kehidupan
atas segalanya yang terjadi di hidupku.

seringkali aku merenung..
kenapa banyak sekali masalah yang aku hadapi tak kunjung selesai
hingga aku merasa payah atas hidupku. dan aku begitu lelah.
aku berujar dalam hati.
"Ya Tuhan, sebenarnya apa yang salah dari diriku?"
"kenapa ? tiap kali kutemui seseorang yang menjadi teman dalam hidupku, selalu. tidak pernah tidak, kudapati konflik pelik didalamnya, ini sungguh makan hati dan melelahkan ya rabb"

rupanya hari itu, aku masih berada dalam kebodohan,
ya, kebodohan menaruh harapan kepada orang lain.
tapi aku senantiasa merenungkan kembali
darimana rasa harapku ini datang?
ohh, mungkinkah..
karena jiwaku membutuhkan sosok teman? sosok yang dalam bayanganku, ia selalu ada dan peduli terhadapku.
mengingat, seluruh usiaku kebelakang, aku belum pernah menemukan sosok itu:")

dah dulu, ngetiknya nanti lanjut

yas! hari ini aku mau lanjut cerita.

pada intinya, aku sering merenung, yang sebetulnya ujung ujungnya ngeluh astagfirullah hal'adzim
mengeluh, mengeluh, mengeluh,
astagfirullah jangan sampai lagi kedepannya:")
ya, semua keluhan yang aku niatkan untu ditulis disini, aku urungkan
karena seketika teringat, beberapa anak itu seperti dandellion, ia bebas tumbuh dan tetap menjadi indah,
sedang beberapa anak seperti anggrek, ia perlu lingkungan dan perawatan maksimal jika ingin tetap tumbuh baik dan indah.

selesai alhamdulillah
semoga allah ridho.

Rabu, 02 September 2020

Paksakan Menulis

 Bismillah, 

Beberapa waktu lalu, sempet maraton dengerin podcastnya salah satu influencer ternama dan terkenal di kalangan millenial muslim, keren pokoknya, setiap untaian katanya, masuk ke dalam ruh, huhuhu. Dalam podcastnya ada salah satu judul yg membahas tentang kepenulisan, dari situ, aku mendapatkan banyak sekali wawasan baru. Ternyata, Allah sampe bersumpah dalam Al Qur'an tentang pena yang dijadikan alat untuk menulis, tepatnya surat al qolam. Karena ya, sepenting itu menulis. Selain itu menulis juga adalah cara mengikat ilmu, para ulama, ilmuwan dan orang-orang hebat terdahulu pun pastii menulis gak mungkin enggak. 

Dan aku sendiri, ngerasain banget manfaat dari nulis itu, kenapa? Karena awalnya aku sering baca baca tulisan hebat, dari orang orang hebat sih, yang bikin aku merasa "wow relate sekali" Gak cuma itu sih, juga nambah pengetahuan tentunya, akhirnya muncul niat buat menulis, awalnya males banget nulis, karena aku orangnya bisa dikatakan perfeksionis, takut salah kalau nulis, overthinking, "apa yang orang pikirkan kalo baca tulisan ku, ih gak banget pasti" Dll. Tapi semakin kesini, semakin sadar bahwa tulisan itu penting, tulisan bisa lebih hebat dari peluru, karena satu peluru bisa nembak satu kepala, sedang tulisan bisa nembak ribuan kepala. 

Tulisan juga bisa berpengaruh banget tentunya. Aku, kalau lagi galau, futur, atau sedih, pasti yang dicari tulisan, atau quotes lah, dan itu sangat membantu bagiku. Tentu yang lebih utama dan tanpa keraguan di dalamnya adalah Al Qur'aanulkariim:). Jadi ya akhirnya aku putuskan menulis, walaupun sangat berantakan, lebih banyak curhatnya daripada hikmah nya huahuahua, kadang isi topik nya gak jelas dan gak nyambung, maafkan kalau ada pembaca:((.

Pokoknya aku harus menulis, apapun itu, kalau lagi gak mood nulis?, gapapa paksain, kadang aku merasa harus dipaksa untuk berpikir hehe. Sekian, semoga kesadaran dan niat yang lurus senantiasa tumbuh dalam ruh ini, dan teraplikasi lewat berkarya apapun yang syar'i, Aamiin. 



Senin, 31 Agustus 2020

Lembaran baru

Bismillah, 

Setiap harinya aku sangat antusias dalam menyambut hari, bagiku, penting dan sangat utama untuk memulai hari dengan bangun di ⅓ malam atau kurang dan lebih sedikit dari itu, untuk apa? Sebetulnya banyak sekali hal yang bisa kita lakukan, sebagai muslim, kita bisa banget dan wajibin aja Qiyamullail, disamping shalat sunnah yang paling utama setelah sholat wajib, ada banyak sekali manfaat dan keberkahan yang Allah janjikan lewat amalan satu ini. Rasanya sayang beribu sayang untuk dilewati:"), walaupun aku jatuh bangun buat berusaha istiqomah di jalan ini, super jatuh bangun pokoknya, setiap kali kelewat, sedih bukan main, muncul pikiran dan perasaan "aku siang nya banyak banget maksiat nih,".

Ada banyak sekali pepatah, nasihat, atau hadist yang menjelaskan kenapa kita tidak Allah karuniakan kenikmatan beribadah. na'udzubillah, huhuhuhu pengen nangis kalau baca, selalu tertampar, tapi jadikan itu juga sebagai pelecut buat berubah jadi lebih baik:"). Pernah suatu hari, aku menyimak video dari seorang mapres ITB, katanya, kita harus berusaha buat modifikasi tidur, soalnya.. Kalau kita berhasil bangun lebih pagi, kita bisa melakukan banyak aktivitas yang membuat kita semakin pd untuk berkegiatan ketika pagi menyambut, aku pikir "wah bener banget nih". Mulai saat itu, aku selalu antusias buat memulai hari, " Apa amalan yang bisa aku unggulkan hari ini, yang ga boleh terlewat, hari ini aku harus a, b, c, d, e" Aku juga selalu teringat akan riwayat yang menceritakan, kalau Rasulullah SAW tidak melaksanakan shalat malam, maka beliau akan shalat dhuha 12 raka'at, dan menurutku ternyata itu seperti bentuk ketegasan akan diri sendiri, "kalau aku gak berhasil, aku harus blablabla". Ternyata itu juga yang diterapkan selama aku mondok dulu:"). 

Rasanya selalu ada semangat baru, rasanya Allah memberi kesempatan untuk berubah, untuk menata ulang, dan bertaubat tentu saja. Oh ya, ada sebuah hadist yang sering aku jadikan ini sebagai pengingat, 

"Penyesalan terbesarku adalah ketika matahari terbenam, makin dekat ajalku, namun tak bertambah amalku" (Ibnu Mas'ud r.a) 

Hmm ngeri juga ya, Ya Allah.. Karuniakan nikmat ibadah, karuniakan kesempatan untuk bisa bangun di ⅓ malam, jauhkan dari maksiat di siang hari ya Allah:" Mudahkan untuk bisa ketagihan shalat malam ya Allah.. 

Jadi, ayo.. Terkhusus rumai dan para pembaca yang mulia, kita buka lembaran baru, goreskan sesuatu yang istimewa di awal, hehe sekian dulu aja nulisnya.. 

Alhamdulillah~


Rabu, 15 Juli 2020

curhat aja

haloooooooooooo.... blog

lama sekali ya aku tidak mengunjungimu :)
aku selalu ingin, tapi apa daya..
yap, malam ini.. aku cuma mau bilang ...
aku ingin sekali punya hoby ngejurnal..
asik aja gitu ya, bisa convert apa yg ada di otak, ke sebuah tulisan, terus dibaca orang, di convert lagi sm orangnya, dan masuk dengan bentuk yg sama seperti bentuk asal nya. haha
apakah menulis itu sebuah seni,? seni untuk mentrasfer ide abstrak dalam kepala kita ke kepala orang lain tanpa suara, bahkan tak jarang yang seni menulisnya udah sampe level tinggi, bisa menyentuh hati seseorang:).